Dua Wanita Mulia Dalam Surat At Tahrim

Dua Wanita Mulia Dalam Surat At Tahrim – Sebagian besar isi dari Al Quran adalah kisah-kisah umat terdahulu. Semuanya adalah sebagai bahan untuk mendapatkan pembelajaran dan hikmah. Dalam surat At Tahrim, tepatnya pada bagian akhir suratnya, terdapat pula kisah mengenai dua orang wanita mulia di dalam Islam. Berikut ini adalah dua wanita tersebut.

Asiah Istri Firaun

Keberadaan Asiah ini ada di zaman Firaun yaitu pada kisah Nabi Musa as. Asiahlah yang telah membujuk Firaun untuk membiarkan Musa yang masih bayi untuk tetap hidup dan tak membunuhnya, justru Asiah berkeinginan untuk mengasuh bayi Musa tersebut.

Walaupun Asiah hidup sebagai istri seorang raja yang sangat dzalim bahkan mengaku sebagai Tuhan, Asiah merupakan satu wanita yang beriman kepada Allah azza wa jalla. Bahkan di surat At Tahrim ini disebutkan bahwa Asiah berdoa dan memohon kepada Allah agar beliau diselamatkan dari Firaun dan orang-orang yang dzalim, serta beliau minta dibuatkan rumah di sisi Allah. Dalam tafsir disebutkan bahwa memang kelak Allah SWT akan membangunkan satu rumah di surga untuk Asiah.

Baca juga : Hukum Islam Ihyaul Mawat, Menghidupkan Tanah Mati 

Kelebihan Asiah sehingga dikategorikan sebagai wanita mulia dalam Islam adalah karena keimanan beliau. Walaupun berada di suasana yang kafir dan tidak mempercayai Islam namun hal ini tak menghalangi beliau untuk beriman. Dan iman inilah yang menjadikan Asiah menjadi wanita yang mulia.

Lain halnya dengan dua wanita lain yang disebutkan di ayat sebelumnya yaitu kedua istri Nabi Luth dan nabi Nuh. Keberadaan kedua suami dua wanita ini walaupun adalah seorang Nabi tidak serta merta membuat keduanya menjadi wanita yang mulia. Terlebih, keduanya juga telah berkhianat kepada suaminya sehingga dengan ini, mereka tak digolongkan sebagai wanita yang mulia justru digolongan sebagai wanita yang dimurkai bahkan mendapatkan azab.

Maryam Binti Imran

Wanita mulia yang kedua setelah Asiah yang disebutkan dalam kisah di Surat At Tahrim adalah Maryam binti Imran. Beliaulah ibunda Nabi Isa as. Maryam menjadi wanita suci yang telah sejak di dalam kandungan kedua orang tuanya sudah berniat agar anak mereka didedikasikan untuk agama.

Tanpa adanya seorang suami, Maryam kemudian atas izin Allah diberikan janin untuk berkembang di dalam rahimnya. Dan kemudian lahirlah Nabi Isa yang juga menjadi salah satu Nabi untuk menyampaikan risalah tauhid kepada umatnya pada saat itu.

Baca juga : Umar Bin Khatab, Bapak Ekonomi Islam

Maryam yang telah menjaga kehormatan dirinya inilah yang menjadikan dirinya sebagai wanita yang sangat mulia. Selain itu, keimanan yang tertancap kuat di dalam dirinya terhadap Allah juga menjadi penyebab dimuliakannya sosok Maryam dan dikenang serta diabadikan di dalam Al Quran untuk menjadi pembelajaran bagi wanita Muslim saat ini.

Dari kedua cerita wanita mulia ini dapat diambil kesimpulan bahwa dengan keimanlah, wanita dapat meraih derajat kemuliaan. Dengan iman dan tunduk patuh pada hukum dan syariat Allah-lah wanita akan menjadi mulia.

Namun sayang, jika saat ini tak banyak wanita yang memahami bagaimana caranya untuk menjadi mulia dan memuliakan dirinya. Mereka bahkan tersesat ke jalan yang justru membuat diri mereka hina. Jalan ini adalah jalan kemaksiatan dan ketidakpatuhan pada hukum Allah. Dengan tidak menjalankan syariat Islam, mereka sejatinya sudah menjadi diri yang hina dan menghinakan diri.

Baca juga : Ayah, Jagalah Keluargamu Dari Api Neraka! 

Jadi, satu hal yang dapat menghantarkan wanita muslimah kepada jalan kemuliaan semata adalah keimanan dirinya kepada Allah. Iman bermakna menaati semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.

itulah dua wanita mulia dalam surat At-Tahrim, semoga kita semua mendapatkan pelajaran yang berharga dari kisah tersebut.

semoga bermafaat..

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.